ASUHAN PADA BAYI BARU LAHIR

BAB II

PEMBAHASAN

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

  1. A. Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum m enangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi berikut :

v     Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi

v     Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan

v     Pastikan semua peralatan dan  bahan yangn digunakan,terutama klem, gunting,pengisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau stelir.Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir dengan alat tersebut (jangan bola karet pengisap yang sama untuh lebbih dari satu bayi )

v     Pastukan semua pakaian,handuk,selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,sudah dalam keadaan bersih.demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda – benda lain yang akan bersentuhan dengan bayi,juga bersih.Dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan.

  1. B. Penilaian

Segera setelah lehir, letakan bayi diatas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu.bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakan bayi dekat ibu (diantara kedua kaki atau disebelah ibu )tetapi harus dipastikan bahwa area tertsebut bersih dan kering. Segera  pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan:

  • Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan ?
  • Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?

Jika bayi tidak bernafas atau bernafas megap –  megap  atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir

  1. C. Pencegahan Kehilangan Panas

Meknisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir,belum  berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera  dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas  tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi, sangat beresiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat atau bahkan kematian.Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walupun berada didalam ruangan yang relative hangat.

1

  1. D. Mekanisme Kehilangan panas

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara – cara berikut :

  • Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan diseliumuti.
  • Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permikaan yang dingin.meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan diatas benda – benda tersebut.
  • Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayiu terpapar udara sekitar yang lebih dingin.bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin,hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
  • Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari tubuh bayi.bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi ( walaupun tidak bersentuhan langsung.
  1. E. Mencegah kehilangan panas

Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagi berikut:

  • Keringkan bayi dengan seksama                                                                                         pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi.keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu.mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
  • Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat                                          segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat, ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering dan bersih. Kain basah didekat tubuh bayi dapat menyerap panas tubuh bayi melalui proses radiasi.ganti handuk, selimut atau kain yang basah telah diganti dengan selimut atau kain yang baru (hangat, bersih dan kering)
  • Selimuti bagian kepala bayi                                                                                                 pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
  • Anjurkan ibu memeluk dan menyusui bayinya                                                                      pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir.sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran

2

  • Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir                                      karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya(terutama jika tidak berpakaian ),sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering.berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/ diselimuti dikurangi  dengan berat pakaian /selimut. Bayi sebaiknya dimandikan (sedikitnya) enam jam setelah lahir.memandikan bayi dalam beberapa jam pertamasetelah lahir dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakn kesehatan bayi baru lahir.
Jangan memandikan bayi setidak – tidaknya 6 jam setelah lahir

Praktek memandikan bayi yang dianjurkan :

v     Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir,sebelum memandikan bayi ( lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi.

v     Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (aksila antara 36,5 oC – 37,5 o C). jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 oC,selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepalanya dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan ibu – bayi dan selimuti keduanya.tunda memandikan bayi hingga tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu jam.

v     Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami pernafasan.

v     Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruang mandinya hangat dan tidak ada tiupann angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan beberapa lambar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah di mandikan.

v     Mandikan secara cepat dengan air bersih dan hangat

v     Segera keringkan  bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.

v     Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.

v     Bayi dapat diletakan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti  dangan baik

v     Ibu dan bayi disatukan ditempat dan dianjurkan ibu untuk menyusukan  bayinya.

  • Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat                                                                      tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan ditempat tidur yang sama dengan ibunya menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorng ibu segera menyusukan  bayinya dan mencegah papran infeksi pada bayi .
  1. F. .Merawat tali pusat
    1. Mengikat tali pusat                                                                                                  setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai stabil maka lakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem plastic (bila tersedia)

3

  • Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan ) kedalam larutan klorin 0,5%,untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya
  • Bilas tangan dengan air desinfeksi tingkat tinggi
  • Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering
  • Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dari dinding perut bayi  (pusat).gunakan benang atau klem plastic penjepit tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastic tali pusat
  • Jika pengikat dilakukan dengan benang tali pusat,lingkaran benang disekeliling putung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati dibagian yang berlawanan
  • Lepaskan klem  logam penjepit tali pusat dan letakan didalam laritan klorin 0,5%
  • Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering
  1. Nasehat untuk merawat tali pusat
  • Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat
  • Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya
  • Mengoleskan alkohol atau betadine (terutama jika pemmotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkkenankan tetapi tidak di kompreskan karena menyebabkan tali pusat basah / lembab
  • Beri nasehat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi :
    • Lipat popok dibawah puntung tali pusat
    • Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan ( hati – hati ) dengan air DTT dan sabun dan segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih
    • Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat masih merah, bernanah atau berdarah atau berbau.
    • Jika pangakl tali pusat (pusat bayi) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah,segera rujuk bayi nkafsilitas yang di lengkapi perawatan untuk bayi baru lahir
  1. G. Pemberian ASI

Refleks  laktasi

Dimasa lakatasi, terdapat 2 mekanisme refleks pada ibu yaitu refleks prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus ( khusunya pada masa nifas ). Pada bayi, terdapat 3 jenis refleks yaitu:

  • Refleks mencari puting susu (rooting refleks)                                                                        bayi akan menoleh kearah dimana terjadi bsentuhan pada pipinya.bayi akan membuka mulut apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut.

4

  • Refleks menghisap ( suckling  refleks)                                                                                  rangsangan putting susu pada langit – langit bayi menimbulkan refleks menghisap. Isapan ini akan menyababkan areola dan putting susu tertekan gusi, lidah dan langit – langit bayi sehuingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar.
  • Refleks menelan (swallowing refleks)

Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot – otot di daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung bayi.

  1. Keuntungan pemberian ASI
  • Mempromosikan keterikatan  emosional ibu dan bayi
  • Memberikan kekebalan pasip yang segera kepada bayi  melalui kolostrum
  • Merangsang kontraksi uterus
  1. Keuntungan pemberian ASI

Primsip pemberian asi adalah sedini mungkin dan dan eksklusip.bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir .anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat di klem dan di potong.beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta larir memastikan ibu dalam kondisi baik termasuk menjahit laserasi.keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal.

c.Memulai pemberian ASI secara dini akan :

  • Merangsang produksi susu
  • Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertam setelah lahir

d.posisi menyusui

  • Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus ), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu
  • Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya ( muka bayi ke payudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusui : membuka mulut,bergerak mencari,dan menoleh.
  • Ibu menyentuhkan putting susunya kebibir bayi, menuggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut

5

HUBUNGAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR DENGAN KEBUDAYAAN SUKU BALI

  1. penanganan bayi  baru lahir dalam budaya bali                                                               ketika bayi baru  lahir di potong tali pusatnya, kemudian bayinya di bersihkan apabila ia melahirkan di rumah sakit  atau di luar rumah maka sebelum ia pulang dan masuk ke dalam rumah,maka disana akan di buatkan sajen. Tepatnya di depan pintu rumah sebelum si ibu dan bayinya masuk ke dalam rumah,maka disana akan di bacakan doa – doa, setelah selesai dibacakan doa, si ibu dan bayinya melangkahi sajen tersebut untuk masuk ke rumah,maksudnya dilakukan upacara ini supaya kotoran yang dibawa ibu dan bayi dari rumah sakit dianggap hilang dan bersih secara agama.                                                                         Tetapi apabila melahirkan di rumah sesajennya sama tetapi tempat sajen tersebut ditempatakn diatas ranjang tempat ibu bersalin setelah itu di buatkan semacam tempat-tempat yang b erbentuk segi empat yang terbuat dari bambu yang dianyam, terus digantung diatas tempat tidur si bayi, tempat tersebut berisi sajen dan buah – buahan ini bertujuan agar bayi mendapat perlindungan dari Tuhan dan sebagai tanda kalau bayi ini resmi menjadi penduduk dunia dalam agama  hindu
  2. perwatan tali pusat                                                                                                                    di dalam perawatan tali pusat ini selama tali pusat belum terlepas tali pusat bayi baru lahir di ikat pake rambut yang dicacing atau benang jarak antara kedua ikatan tersebut 2 – 3 cm lalu di potong dengan bambu yang tersebut telah  direbus selama 24 jam untuk membunuih kuman dan segala jenis bakteri setelah itu agar tali pusat tidak mudah terkena infeksi maka daun paria yang muda di tumbuk,kemudian di campur dengan abu arang yang bersih kemudian diisikan diatas tali pusat ini juga berfungsi untuk mempercepat pelepasan tali pusat.
  3. perawatan atau penyelenggaraan terhadap ari – ari ( plasenta)                                        ketika ari – ari (plasenta) terlepas atau dilahirkan plasenta tersebut di masukan ke dalam kendi tanah, kemudian plasenta di bersihkan dengan memakai sebuah baskom baru baru/ember yang kemudian alat tersebut tidak boleh di pakai lagi. Si ayah harus harus mencucinya dengan baik, tidak boleh jijik harus  dengan penuh dengan rasa bahagia dan kasih sayang dengan memakai tangan kanan (kedua tangan ) dipakai, setelah dibersihkan siapkan sebuah kelapa yang besar yang masih ada kulitnya, kelapa yang tua di buka dan di buang airnya setelah p potong ½ dan 2/3.masukanlah plasenta yang telah di bersihkan di dalamnya di lengkapi dengan sajen – sajen.setelah lengkap kemudian kelapa itu ditutup dan ditutup dengan ijuk, sesudah dibungkus ijuk lalu dibungkus lagi dengan kain putih dan ditanam.setelah ditanam kemudian diletakan  sebuah batu, dan ditandai menam sebuah pohon pandan berduuri,untuk menghindari mahluk – mahluk yana dapat mencelakan bayi. Ini bertujuan agar plasenta tudak diganggu oleh hewan secara rohaniah, bertujuan untuk menolak gangguan roh – roh jahat.

BAB II

PEMBAHASAN

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

  1. A. Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum m enangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi berikut :

v     Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi

v     Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan

v     Pastikan semua peralatan dan  bahan yangn digunakan,terutama klem, gunting,pengisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau stelir.Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir dengan alat tersebut (jangan bola karet pengisap yang sama untuh lebbih dari satu bayi )

v     Pastukan semua pakaian,handuk,selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,sudah dalam keadaan bersih.demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda – benda lain yang akan bersentuhan dengan bayi,juga bersih.Dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan.

  1. B. Penilaian

Segera setelah lehir, letakan bayi diatas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu.bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakan bayi dekat ibu (diantara kedua kaki atau disebelah ibu )tetapi harus dipastikan bahwa area tertsebut bersih dan kering. Segera  pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan:

  • Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan ?
  • Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?

Jika bayi tidak bernafas atau bernafas megap –  megap  atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir

  1. C. Pencegahan Kehilangan Panas

Meknisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir,belum  berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera  dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas  tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi, sangat beresiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat atau bahkan kematian.Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walupun berada didalam ruangan yang relative hangat.

1

  1. D. Mekanisme Kehilangan panas

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara – cara berikut :

  • Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan diseliumuti.
  • Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permikaan yang dingin.meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan diatas benda – benda tersebut.
  • Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayiu terpapar udara sekitar yang lebih dingin.bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin,hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
  • Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari tubuh bayi.bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi ( walaupun tidak bersentuhan langsung.
  1. E. Mencegah kehilangan panas

Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagi berikut:

  • Keringkan bayi dengan seksama                                                                                         pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi.keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu.mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
  • Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat                                          segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat, ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering dan bersih. Kain basah didekat tubuh bayi dapat menyerap panas tubuh bayi melalui proses radiasi.ganti handuk, selimut atau kain yang basah telah diganti dengan selimut atau kain yang baru (hangat, bersih dan kering)
  • Selimuti bagian kepala bayi                                                                                                 pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
  • Anjurkan ibu memeluk dan menyusui bayinya                                                                      pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir.sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran

2

  • Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir                                      karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya(terutama jika tidak berpakaian ),sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering.berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/ diselimuti dikurangi  dengan berat pakaian /selimut. Bayi sebaiknya dimandikan (sedikitnya) enam jam setelah lahir.memandikan bayi dalam beberapa jam pertamasetelah lahir dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakn kesehatan bayi baru lahir.
Jangan memandikan bayi setidak – tidaknya 6 jam setelah lahir

Praktek memandikan bayi yang dianjurkan :

v     Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir,sebelum memandikan bayi ( lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi.

v     Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (aksila antara 36,5 oC – 37,5 o C). jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 oC,selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepalanya dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan ibu – bayi dan selimuti keduanya.tunda memandikan bayi hingga tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu jam.

v     Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami pernafasan.

v     Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruang mandinya hangat dan tidak ada tiupann angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan beberapa lambar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah di mandikan.

v     Mandikan secara cepat dengan air bersih dan hangat

v     Segera keringkan  bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.

v     Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.

v     Bayi dapat diletakan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti  dangan baik

v     Ibu dan bayi disatukan ditempat dan dianjurkan ibu untuk menyusukan  bayinya.

  • Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat                                                                      tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan ditempat tidur yang sama dengan ibunya menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorng ibu segera menyusukan  bayinya dan mencegah papran infeksi pada bayi .
  1. F. .Merawat tali pusat
    1. Mengikat tali pusat                                                                                                  setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai stabil maka lakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem plastic (bila tersedia)

3

  • Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan ) kedalam larutan klorin 0,5%,untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya
  • Bilas tangan dengan air desinfeksi tingkat tinggi
  • Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering
  • Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dari dinding perut bayi  (pusat).gunakan benang atau klem plastic penjepit tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastic tali pusat
  • Jika pengikat dilakukan dengan benang tali pusat,lingkaran benang disekeliling putung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati dibagian yang berlawanan
  • Lepaskan klem  logam penjepit tali pusat dan letakan didalam laritan klorin 0,5%
  • Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering
  1. Nasehat untuk merawat tali pusat
  • Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat
  • Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya
  • Mengoleskan alkohol atau betadine (terutama jika pemmotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkkenankan tetapi tidak di kompreskan karena menyebabkan tali pusat basah / lembab
  • Beri nasehat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi :
    • Lipat popok dibawah puntung tali pusat
    • Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan ( hati – hati ) dengan air DTT dan sabun dan segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih
    • Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat masih merah, bernanah atau berdarah atau berbau.
    • Jika pangakl tali pusat (pusat bayi) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah,segera rujuk bayi nkafsilitas yang di lengkapi perawatan untuk bayi baru lahir
  1. G. Pemberian ASI

Refleks  laktasi

Dimasa lakatasi, terdapat 2 mekanisme refleks pada ibu yaitu refleks prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus ( khusunya pada masa nifas ). Pada bayi, terdapat 3 jenis refleks yaitu:

  • Refleks mencari puting susu (rooting refleks)                                                                        bayi akan menoleh kearah dimana terjadi bsentuhan pada pipinya.bayi akan membuka mulut apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut.

4

  • Refleks menghisap ( suckling  refleks)                                                                                  rangsangan putting susu pada langit – langit bayi menimbulkan refleks menghisap. Isapan ini akan menyababkan areola dan putting susu tertekan gusi, lidah dan langit – langit bayi sehuingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar.
  • Refleks menelan (swallowing refleks)

Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot – otot di daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung bayi.

  1. Keuntungan pemberian ASI
  • Mempromosikan keterikatan  emosional ibu dan bayi
  • Memberikan kekebalan pasip yang segera kepada bayi  melalui kolostrum
  • Merangsang kontraksi uterus
  1. Keuntungan pemberian ASI

Primsip pemberian asi adalah sedini mungkin dan dan eksklusip.bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir .anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat di klem dan di potong.beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta larir memastikan ibu dalam kondisi baik termasuk menjahit laserasi.keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal.

c.Memulai pemberian ASI secara dini akan :

  • Merangsang produksi susu
  • Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertam setelah lahir

d.posisi menyusui

  • Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus ), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu
  • Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya ( muka bayi ke payudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusui : membuka mulut,bergerak mencari,dan menoleh.
  • Ibu menyentuhkan putting susunya kebibir bayi, menuggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut

5

HUBUNGAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR DENGAN KEBUDAYAAN SUKU BALI

  1. penanganan bayi  baru lahir dalam budaya bali                                                               ketika bayi baru  lahir di potong tali pusatnya, kemudian bayinya di bersihkan apabila ia melahirkan di rumah sakit  atau di luar rumah maka sebelum ia pulang dan masuk ke dalam rumah,maka disana akan di buatkan sajen. Tepatnya di depan pintu rumah sebelum si ibu dan bayinya masuk ke dalam rumah,maka disana akan di bacakan doa – doa, setelah selesai dibacakan doa, si ibu dan bayinya melangkahi sajen tersebut untuk masuk ke rumah,maksudnya dilakukan upacara ini supaya kotoran yang dibawa ibu dan bayi dari rumah sakit dianggap hilang dan bersih secara agama.                                                                         Tetapi apabila melahirkan di rumah sesajennya sama tetapi tempat sajen tersebut ditempatakn diatas ranjang tempat ibu bersalin setelah itu di buatkan semacam tempat-tempat yang b erbentuk segi empat yang terbuat dari bambu yang dianyam, terus digantung diatas tempat tidur si bayi, tempat tersebut berisi sajen dan buah – buahan ini bertujuan agar bayi mendapat perlindungan dari Tuhan dan sebagai tanda kalau bayi ini resmi menjadi penduduk dunia dalam agama  hindu
  2. perwatan tali pusat                                                                                                                    di dalam perawatan tali pusat ini selama tali pusat belum terlepas tali pusat bayi baru lahir di ikat pake rambut yang dicacing atau benang jarak antara kedua ikatan tersebut 2 – 3 cm lalu di potong dengan bambu yang tersebut telah  direbus selama 24 jam untuk membunuih kuman dan segala jenis bakteri setelah itu agar tali pusat tidak mudah terkena infeksi maka daun paria yang muda di tumbuk,kemudian di campur dengan abu arang yang bersih kemudian diisikan diatas tali pusat ini juga berfungsi untuk mempercepat pelepasan tali pusat.
  3. perawatan atau penyelenggaraan terhadap ari – ari ( plasenta)                                        ketika ari – ari (plasenta) terlepas atau dilahirkan plasenta tersebut di masukan ke dalam kendi tanah, kemudian plasenta di bersihkan dengan memakai sebuah baskom baru baru/ember yang kemudian alat tersebut tidak boleh di pakai lagi. Si ayah harus harus mencucinya dengan baik, tidak boleh jijik harus  dengan penuh dengan rasa bahagia dan kasih sayang dengan memakai tangan kanan (kedua tangan ) dipakai, setelah dibersihkan siapkan sebuah kelapa yang besar yang masih ada kulitnya, kelapa yang tua di buka dan di buang airnya setelah p potong ½ dan 2/3.masukanlah plasenta yang telah di bersihkan di dalamnya di lengkapi dengan sajen – sajen.setelah lengkap kemudian kelapa itu ditutup dan ditutup dengan ijuk, sesudah dibungkus ijuk lalu dibungkus lagi dengan kain putih dan ditanam.setelah ditanam kemudian diletakan  sebuah batu, dan ditandai menam sebuah pohon pandan berduuri,untuk menghindari mahluk – mahluk yana dapat mencelakan bayi. Ini bertujuan agar plasenta tudak diganggu oleh hewan secara rohaniah, bertujuan untuk menolak gangguan roh – roh jahat.

BAB II

PEMBAHASAN

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

  1. A. Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum m enangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi berikut :

v     Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi

v     Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan

v     Pastikan semua peralatan dan  bahan yangn digunakan,terutama klem, gunting,pengisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau stelir.Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir dengan alat tersebut (jangan bola karet pengisap yang sama untuh lebbih dari satu bayi )

v     Pastukan semua pakaian,handuk,selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,sudah dalam keadaan bersih.demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda – benda lain yang akan bersentuhan dengan bayi,juga bersih.Dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan.

  1. B. Penilaian

Segera setelah lehir, letakan bayi diatas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu.bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakan bayi dekat ibu (diantara kedua kaki atau disebelah ibu )tetapi harus dipastikan bahwa area tertsebut bersih dan kering. Segera  pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan:

  • Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan ?
  • Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?

Jika bayi tidak bernafas atau bernafas megap –  megap  atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir

  1. C. Pencegahan Kehilangan Panas

Meknisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir,belum  berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera  dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas  tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi, sangat beresiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat atau bahkan kematian.Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walupun berada didalam ruangan yang relative hangat.

1

  1. D. Mekanisme Kehilangan panas

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara – cara berikut :

  • Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan diseliumuti.
  • Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permikaan yang dingin.meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan diatas benda – benda tersebut.
  • Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayiu terpapar udara sekitar yang lebih dingin.bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin,hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
  • Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari tubuh bayi.bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi ( walaupun tidak bersentuhan langsung.
  1. E. Mencegah kehilangan panas

Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagi berikut:

  • Keringkan bayi dengan seksama                                                                                         pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi.keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu.mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
  • Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat                                          segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat, ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering dan bersih. Kain basah didekat tubuh bayi dapat menyerap panas tubuh bayi melalui proses radiasi.ganti handuk, selimut atau kain yang basah telah diganti dengan selimut atau kain yang baru (hangat, bersih dan kering)
  • Selimuti bagian kepala bayi                                                                                                 pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
  • Anjurkan ibu memeluk dan menyusui bayinya                                                                      pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir.sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran

2

  • Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir                                      karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya(terutama jika tidak berpakaian ),sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering.berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/ diselimuti dikurangi  dengan berat pakaian /selimut. Bayi sebaiknya dimandikan (sedikitnya) enam jam setelah lahir.memandikan bayi dalam beberapa jam pertamasetelah lahir dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakn kesehatan bayi baru lahir.
Jangan memandikan bayi setidak – tidaknya 6 jam setelah lahir

Praktek memandikan bayi yang dianjurkan :

v     Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir,sebelum memandikan bayi ( lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi.

v     Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (aksila antara 36,5 oC – 37,5 o C). jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 oC,selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepalanya dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan ibu – bayi dan selimuti keduanya.tunda memandikan bayi hingga tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu jam.

v     Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami pernafasan.

v     Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruang mandinya hangat dan tidak ada tiupann angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan beberapa lambar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah di mandikan.

v     Mandikan secara cepat dengan air bersih dan hangat

v     Segera keringkan  bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.

v     Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.

v     Bayi dapat diletakan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti  dangan baik

v     Ibu dan bayi disatukan ditempat dan dianjurkan ibu untuk menyusukan  bayinya.

  • Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat                                                                      tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan ditempat tidur yang sama dengan ibunya menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorng ibu segera menyusukan  bayinya dan mencegah papran infeksi pada bayi .
  1. F. .Merawat tali pusat
    1. Mengikat tali pusat                                                                                                  setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai stabil maka lakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem plastic (bila tersedia)

3

  • Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan ) kedalam larutan klorin 0,5%,untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya
  • Bilas tangan dengan air desinfeksi tingkat tinggi
  • Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering
  • Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dari dinding perut bayi  (pusat).gunakan benang atau klem plastic penjepit tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastic tali pusat
  • Jika pengikat dilakukan dengan benang tali pusat,lingkaran benang disekeliling putung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati dibagian yang berlawanan
  • Lepaskan klem  logam penjepit tali pusat dan letakan didalam laritan klorin 0,5%
  • Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering
  1. Nasehat untuk merawat tali pusat
  • Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat
  • Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya
  • Mengoleskan alkohol atau betadine (terutama jika pemmotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkkenankan tetapi tidak di kompreskan karena menyebabkan tali pusat basah / lembab
  • Beri nasehat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi :
    • Lipat popok dibawah puntung tali pusat
    • Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan ( hati – hati ) dengan air DTT dan sabun dan segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih
    • Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat masih merah, bernanah atau berdarah atau berbau.
    • Jika pangakl tali pusat (pusat bayi) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah,segera rujuk bayi nkafsilitas yang di lengkapi perawatan untuk bayi baru lahir
  1. G. Pemberian ASI

Refleks  laktasi

Dimasa lakatasi, terdapat 2 mekanisme refleks pada ibu yaitu refleks prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus ( khusunya pada masa nifas ). Pada bayi, terdapat 3 jenis refleks yaitu:

  • Refleks mencari puting susu (rooting refleks)                                                                        bayi akan menoleh kearah dimana terjadi bsentuhan pada pipinya.bayi akan membuka mulut apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut.

4

  • Refleks menghisap ( suckling  refleks)                                                                                  rangsangan putting susu pada langit – langit bayi menimbulkan refleks menghisap. Isapan ini akan menyababkan areola dan putting susu tertekan gusi, lidah dan langit – langit bayi sehuingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar.
  • Refleks menelan (swallowing refleks)

Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot – otot di daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung bayi.

  1. Keuntungan pemberian ASI
  • Mempromosikan keterikatan  emosional ibu dan bayi
  • Memberikan kekebalan pasip yang segera kepada bayi  melalui kolostrum
  • Merangsang kontraksi uterus
  1. Keuntungan pemberian ASI

Primsip pemberian asi adalah sedini mungkin dan dan eksklusip.bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir .anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat di klem dan di potong.beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta larir memastikan ibu dalam kondisi baik termasuk menjahit laserasi.keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal.

c.Memulai pemberian ASI secara dini akan :

  • Merangsang produksi susu
  • Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertam setelah lahir

d.posisi menyusui

  • Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus ), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu
  • Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya ( muka bayi ke payudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusui : membuka mulut,bergerak mencari,dan menoleh.
  • Ibu menyentuhkan putting susunya kebibir bayi, menuggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut

5

HUBUNGAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR DENGAN KEBUDAYAAN SUKU BALI

  1. penanganan bayi  baru lahir dalam budaya bali                                                               ketika bayi baru  lahir di potong tali pusatnya, kemudian bayinya di bersihkan apabila ia melahirkan di rumah sakit  atau di luar rumah maka sebelum ia pulang dan masuk ke dalam rumah,maka disana akan di buatkan sajen. Tepatnya di depan pintu rumah sebelum si ibu dan bayinya masuk ke dalam rumah,maka disana akan di bacakan doa – doa, setelah selesai dibacakan doa, si ibu dan bayinya melangkahi sajen tersebut untuk masuk ke rumah,maksudnya dilakukan upacara ini supaya kotoran yang dibawa ibu dan bayi dari rumah sakit dianggap hilang dan bersih secara agama.                                                                         Tetapi apabila melahirkan di rumah sesajennya sama tetapi tempat sajen tersebut ditempatakn diatas ranjang tempat ibu bersalin setelah itu di buatkan semacam tempat-tempat yang b erbentuk segi empat yang terbuat dari bambu yang dianyam, terus digantung diatas tempat tidur si bayi, tempat tersebut berisi sajen dan buah – buahan ini bertujuan agar bayi mendapat perlindungan dari Tuhan dan sebagai tanda kalau bayi ini resmi menjadi penduduk dunia dalam agama  hindu
  2. perwatan tali pusat                                                                                                                    di dalam perawatan tali pusat ini selama tali pusat belum terlepas tali pusat bayi baru lahir di ikat pake rambut yang dicacing atau benang jarak antara kedua ikatan tersebut 2 – 3 cm lalu di potong dengan bambu yang tersebut telah  direbus selama 24 jam untuk membunuih kuman dan segala jenis bakteri setelah itu agar tali pusat tidak mudah terkena infeksi maka daun paria yang muda di tumbuk,kemudian di campur dengan abu arang yang bersih kemudian diisikan diatas tali pusat ini juga berfungsi untuk mempercepat pelepasan tali pusat.
  3. perawatan atau penyelenggaraan terhadap ari – ari ( plasenta)                                        ketika ari – ari (plasenta) terlepas atau dilahirkan plasenta tersebut di masukan ke dalam kendi tanah, kemudian plasenta di bersihkan dengan memakai sebuah baskom baru baru/ember yang kemudian alat tersebut tidak boleh di pakai lagi. Si ayah harus harus mencucinya dengan baik, tidak boleh jijik harus  dengan penuh dengan rasa bahagia dan kasih sayang dengan memakai tangan kanan (kedua tangan ) dipakai, setelah dibersihkan siapkan sebuah kelapa yang besar yang masih ada kulitnya, kelapa yang tua di buka dan di buang airnya setelah p potong ½ dan 2/3.masukanlah plasenta yang telah di bersihkan di dalamnya di lengkapi dengan sajen – sajen.setelah lengkap kemudian kelapa itu ditutup dan ditutup dengan ijuk, sesudah dibungkus ijuk lalu dibungkus lagi dengan kain putih dan ditanam.setelah ditanam kemudian diletakan  sebuah batu, dan ditandai menam sebuah pohon pandan berduuri,untuk menghindari mahluk – mahluk yana dapat mencelakan bayi. Ini bertujuan agar plasenta tudak diganggu oleh hewan secara rohaniah, bertujuan untuk menolak gangguan roh – roh jahat.

BAB II

PEMBAHASAN

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

  1. A. Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Sebelum m enangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi berikut :

v     Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi

v     Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan

v     Pastikan semua peralatan dan  bahan yangn digunakan,terutama klem, gunting,pengisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau stelir.Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir dengan alat tersebut (jangan bola karet pengisap yang sama untuh lebbih dari satu bayi )

v     Pastukan semua pakaian,handuk,selimut dan kain yang digunakan untuk bayi,sudah dalam keadaan bersih.demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda – benda lain yang akan bersentuhan dengan bayi,juga bersih.Dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan.

  1. B. Penilaian

Segera setelah lehir, letakan bayi diatas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu.bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakan bayi dekat ibu (diantara kedua kaki atau disebelah ibu )tetapi harus dipastikan bahwa area tertsebut bersih dan kering. Segera  pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan:

  • Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan ?
  • Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?

Jika bayi tidak bernafas atau bernafas megap –  megap  atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir

  1. C. Pencegahan Kehilangan Panas

Meknisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir,belum  berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera  dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas  tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi, sangat beresiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat atau bahkan kematian.Hipotermi mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walupun berada didalam ruangan yang relative hangat.

1

  1. D. Mekanisme Kehilangan panas

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara – cara berikut :

  • Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan dan diseliumuti.
  • Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permikaan yang dingin.meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan diatas benda – benda tersebut.
  • Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayiu terpapar udara sekitar yang lebih dingin.bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin,hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
  • Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari tubuh bayi.bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi ( walaupun tidak bersentuhan langsung.
  1. E. Mencegah kehilangan panas

Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagi berikut:

  • Keringkan bayi dengan seksama                                                                                         pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi.keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu.mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
  • Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat                                          segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat, ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudian selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering dan bersih. Kain basah didekat tubuh bayi dapat menyerap panas tubuh bayi melalui proses radiasi.ganti handuk, selimut atau kain yang basah telah diganti dengan selimut atau kain yang baru (hangat, bersih dan kering)
  • Selimuti bagian kepala bayi                                                                                                 pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
  • Anjurkan ibu memeluk dan menyusui bayinya                                                                      pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir.sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran

2

  • Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir                                      karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya(terutama jika tidak berpakaian ),sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering.berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/ diselimuti dikurangi  dengan berat pakaian /selimut. Bayi sebaiknya dimandikan (sedikitnya) enam jam setelah lahir.memandikan bayi dalam beberapa jam pertamasetelah lahir dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakn kesehatan bayi baru lahir.
Jangan memandikan bayi setidak – tidaknya 6 jam setelah lahir

Praktek memandikan bayi yang dianjurkan :

v     Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir,sebelum memandikan bayi ( lebih lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi.

v     Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (aksila antara 36,5 oC – 37,5 o C). jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5 oC,selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepalanya dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan ibu – bayi dan selimuti keduanya.tunda memandikan bayi hingga tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu jam.

v     Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami pernafasan.

v     Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruang mandinya hangat dan tidak ada tiupann angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan beberapa lambar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah di mandikan.

v     Mandikan secara cepat dengan air bersih dan hangat

v     Segera keringkan  bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.

v     Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.

v     Bayi dapat diletakan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti  dangan baik

v     Ibu dan bayi disatukan ditempat dan dianjurkan ibu untuk menyusukan  bayinya.

  • Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat                                                                      tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan ditempat tidur yang sama dengan ibunya menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorng ibu segera menyusukan  bayinya dan mencegah papran infeksi pada bayi .
  1. F. .Merawat tali pusat
    1. Mengikat tali pusat                                                                                                  setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai stabil maka lakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem plastic (bila tersedia)

3

  • Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan ) kedalam larutan klorin 0,5%,untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya
  • Bilas tangan dengan air desinfeksi tingkat tinggi
  • Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering
  • Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dari dinding perut bayi  (pusat).gunakan benang atau klem plastic penjepit tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastic tali pusat
  • Jika pengikat dilakukan dengan benang tali pusat,lingkaran benang disekeliling putung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati dibagian yang berlawanan
  • Lepaskan klem  logam penjepit tali pusat dan letakan didalam laritan klorin 0,5%
  • Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering
  1. Nasehat untuk merawat tali pusat
  • Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat
  • Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya
  • Mengoleskan alkohol atau betadine (terutama jika pemmotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkkenankan tetapi tidak di kompreskan karena menyebabkan tali pusat basah / lembab
  • Beri nasehat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi :
    • Lipat popok dibawah puntung tali pusat
    • Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan ( hati – hati ) dengan air DTT dan sabun dan segera keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih
    • Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat masih merah, bernanah atau berdarah atau berbau.
    • Jika pangakl tali pusat (pusat bayi) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah,segera rujuk bayi nkafsilitas yang di lengkapi perawatan untuk bayi baru lahir
  1. G. Pemberian ASI

Refleks  laktasi

Dimasa lakatasi, terdapat 2 mekanisme refleks pada ibu yaitu refleks prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus ( khusunya pada masa nifas ). Pada bayi, terdapat 3 jenis refleks yaitu:

  • Refleks mencari puting susu (rooting refleks)                                                                        bayi akan menoleh kearah dimana terjadi bsentuhan pada pipinya.bayi akan membuka mulut apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut.

4

  • Refleks menghisap ( suckling  refleks)                                                                                  rangsangan putting susu pada langit – langit bayi menimbulkan refleks menghisap. Isapan ini akan menyababkan areola dan putting susu tertekan gusi, lidah dan langit – langit bayi sehuingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar.
  • Refleks menelan (swallowing refleks)

Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot – otot di daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung bayi.

  1. Keuntungan pemberian ASI
  • Mempromosikan keterikatan  emosional ibu dan bayi
  • Memberikan kekebalan pasip yang segera kepada bayi  melalui kolostrum
  • Merangsang kontraksi uterus
  1. Keuntungan pemberian ASI

Primsip pemberian asi adalah sedini mungkin dan dan eksklusip.bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir .anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat di klem dan di potong.beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta larir memastikan ibu dalam kondisi baik termasuk menjahit laserasi.keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal.

c.Memulai pemberian ASI secara dini akan :

  • Merangsang produksi susu
  • Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertam setelah lahir

d.posisi menyusui

  • Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus ), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu
  • Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya ( muka bayi ke payudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusui : membuka mulut,bergerak mencari,dan menoleh.
  • Ibu menyentuhkan putting susunya kebibir bayi, menuggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut

5

HUBUNGAN ASUHAN BAYI BARU LAHIR DENGAN KEBUDAYAAN SUKU BALI

  1. penanganan bayi  baru lahir dalam budaya bali                                                               ketika bayi baru  lahir di potong tali pusatnya, kemudian bayinya di bersihkan apabila ia melahirkan di rumah sakit  atau di luar rumah maka sebelum ia pulang dan masuk ke dalam rumah,maka disana akan di buatkan sajen. Tepatnya di depan pintu rumah sebelum si ibu dan bayinya masuk ke dalam rumah,maka disana akan di bacakan doa – doa, setelah selesai dibacakan doa, si ibu dan bayinya melangkahi sajen tersebut untuk masuk ke rumah,maksudnya dilakukan upacara ini supaya kotoran yang dibawa ibu dan bayi dari rumah sakit dianggap hilang dan bersih secara agama.                                                                         Tetapi apabila melahirkan di rumah sesajennya sama tetapi tempat sajen tersebut ditempatakn diatas ranjang tempat ibu bersalin setelah itu di buatkan semacam tempat-tempat yang b erbentuk segi empat yang terbuat dari bambu yang dianyam, terus digantung diatas tempat tidur si bayi, tempat tersebut berisi sajen dan buah – buahan ini bertujuan agar bayi mendapat perlindungan dari Tuhan dan sebagai tanda kalau bayi ini resmi menjadi penduduk dunia dalam agama  hindu
  2. perwatan tali pusat                                                                                                                    di dalam perawatan tali pusat ini selama tali pusat belum terlepas tali pusat bayi baru lahir di ikat pake rambut yang dicacing atau benang jarak antara kedua ikatan tersebut 2 – 3 cm lalu di potong dengan bambu yang tersebut telah  direbus selama 24 jam untuk membunuih kuman dan segala jenis bakteri setelah itu agar tali pusat tidak mudah terkena infeksi maka daun paria yang muda di tumbuk,kemudian di campur dengan abu arang yang bersih kemudian diisikan diatas tali pusat ini juga berfungsi untuk mempercepat pelepasan tali pusat.
  3. perawatan atau penyelenggaraan terhadap ari – ari ( plasenta)                                        ketika ari – ari (plasenta) terlepas atau dilahirkan plasenta tersebut di masukan ke dalam kendi tanah, kemudian plasenta di bersihkan dengan memakai sebuah baskom baru baru/ember yang kemudian alat tersebut tidak boleh di pakai lagi. Si ayah harus harus mencucinya dengan baik, tidak boleh jijik harus  dengan penuh dengan rasa bahagia dan kasih sayang dengan memakai tangan kanan (kedua tangan ) dipakai, setelah dibersihkan siapkan sebuah kelapa yang besar yang masih ada kulitnya, kelapa yang tua di buka dan di buang airnya setelah p potong ½ dan 2/3.masukanlah plasenta yang telah di bersihkan di dalamnya di lengkapi dengan sajen – sajen.setelah lengkap kemudian kelapa itu ditutup dan ditutup dengan ijuk, sesudah dibungkus ijuk lalu dibungkus lagi dengan kain putih dan ditanam.setelah ditanam kemudian diletakan  sebuah batu, dan ditandai menam sebuah pohon pandan berduuri,untuk menghindari mahluk – mahluk yana dapat mencelakan bayi. Ini bertujuan agar plasenta tudak diganggu oleh hewan secara rohaniah, bertujuan untuk menolak gangguan roh – roh jahat.

6

Add a comment Februari 22, 2010

makalah administrasi negara kepemimpinan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Administrasi adalah sebuah istilah yang bersifat generik, yang mencakup semua bidang kehidupan. Karena itu, banyak sekali definisi mengenai administrasi. Sekalipun demikian, ada tiga unsur pokok dari administrasi. Tiga unsur ini pula yang merupakan pembeda apakah sesuatu kegiatan merupakan kegiatan administrasi atau tidak. Dari definisi administrasi yang ada, kita dapat mengelompokkan administrasi dalam pengertian proses, tata usaha dan pemerintahan atau adminsitrasi negara. Sebagai ilmu, administrasi mempunyai berbagai cabang, yang salah satu di antaranya adalah administrasi negara.

Administrasi negara juga mempunyai banyak sekali definisi, yang secara umum dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, definisi yang melihat administrasi negara hanya dalam lingkungan lembaga eksekutif saja. Dan kedua, definisi yang melihat cakupan administrasi negara meliputi semua cabang pemerintahan dan hal-hal yang berkaitan dengan publik. Terdapat hubungan interaktif antara administrasi negara dengan lingkungan sosialnya. Di antara berbagai unsur lingkungan sosial, unsur budaya merupakan unsur yang paling banyak mempengaruhi penampilan (performance) administrasi negara.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  • Apa pengertian sistem dan administrasi Negara?
  • Apa pengertian Negara dan bagaimana syarat sebuah Negara?
  • Bagaimana sistem administrasi Negara Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memberikan pemahamana kepada teman-temana atau pembaca tentang apa pengertian sistem dan administrasi, serta bagaimana system administrasi Negara Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem dan Administrasi

“Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau terorganisie, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau utuh” (Pamudji:1981).

“Sistem adalah suatu jaringan dari prosedur-prosedur yang berhubungan satu sama lain menurut skema atau pola yang bulat untuk menggerakkan suatu fungsi yang utama dari suatu usaha atau urusan” (Prajudi:1973).

Administrasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan kelompok ti bekerjasama mencapai tujuan bersama (Herbert A. Simon: 1959).

Administrasi negra dapat dirumuskan sebagai seluruh proses baik yang dilakukan organisasi maupun perseorangan yang berkaitan dengan penerapan atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang dikeluarkan oleh badan legislatif, eksekutif, serta peradilan.

2.2 Pengertian Negara

Negara adalah persekutuan dari keluarga dan desa guna memperoleh hidup yang sebaik-baiknya (Aristoteles).

Negara adalah suatu persekutuan dari keluarga dengan segala kepentingannya yang dipimpin oleh akal dari suatu kuasa yang berdaulat (Jean Bodin).

Negara adalahorganisasi kewilayahan yang bergerak dibidang kemasyarakatan dan kepentingan perseorangan dari segenap kehidupan yang multidimensional untuk pengawasan pemerintahan dengan legalitas kekuasaan tertinggi (Herman Finer).

Pasal satu dari perjanjian tersebut berbunyi: “Negara sebagai pribadi hukum internasional harus memiliki kualifikasi  sebagai berikut:

1. Populasi permanen

2. Sebuah wilayah didefinisikan

3. Suatu pemerintah, dan

4. Kemampuan untuk masuk ke dalam hubungan dengan Negara lain “.

Syarat sebuah Negara adalah :

  1. Memiliki wilayah yang pasti
  2. Adanya pengakuan
  3. Adanya pemerintahan dan,
  4. Adanya rakyat.

2.3 Sistem Administrasi Negara Indonesia

Pentingnya studi administrasi Negara dikaitkan dengan kenyataan bahwa kehidupan menjadi tak bermakna, kecuali dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat public. Segala hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat public telah dicakup dalam pengertian administrasi Negara, khususnya dalam mengkaji kebijaksanaan publik. Dalam proses pembangunan sebagai konsekuensi dari pandangan bahwa administrasi Negara merupakan motor penggerak pembangunan, maka administrasi Negara membantu untuk meningkatkan kemampuan administrasi. Artinya, di samping memberikan ketrampilan dalam bidang prosedur, teknik, dan mekanik, studi administrasi akan memberikan bekal ilmiah mengenai bagaimana mengorganisasikan segala energi social dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan.

Dengan demikian, determinasi kebijaksanaan. publik, baik dalam tahapan formulasi, implementasi, evaluasi, amupun terminasi, selalu dikaitkan dengan aspek produktifitas, kepraktisan, kearifan, ekonomi dan apresiasi terhadap system nilai yang berlaku. Peranan administrasi Negara makin dibutuhkan dalam alam globalisasi yang amat menekankan prinsip persainagn bebas. Secara politis, peranan administrasi Negara adalah memelihara stabilitas Negara, baik dalam pengertian keutuhan wilayah maupun keutuhan politik. Secara ekonomi, peranan administrasi Negara adalah menjamin adanya kemampuan ekonomi nasional untuk menghadapi dan mengatasi persaingan global.

Administrasi Negara, dilihat dari segi Analisa Sistem :

  • Sistem adalah merupakan kebulatan dari bagian yang saling bergantung.
  • Sistem terdiri dari gugus-gugus komponen yang bekerja sama untuk kepentingan tujuan sebagai suatu keseluruhan
  • Sistem adalah kompleks unsur-unsur yang saling berinteraksi.

( Interaksi = bahwa di antara unsur-unsur tersebut saling berhubungan )

Komponen-komponen (unsur) dlam Administrasi Negara dilihat dari Analia Sistem :

  1. Lingkungan
  2. Input (dari lingkungan)
  3. Konversi (pengubahan/proses pengubahan)
  4. Output
  5. Feed back

1.) Lingkungan

Mencakup berbagai macam gejala (sosial, eonomi, politik, budaya, hankam)

Gejala adalah masalah/bajan yang dapat digunakan oleh pemerintah (Adm. Negara) di dalam membuat suatu kebijaksanaan. Gejala tersebut mungkin dapat mempercepat (membantu) atau menghambat (menghalangi) pemerintahan (Adm Negara) di dalam membuat suatu keputusan.

Lingkungan terdiri dari :

  1. Langganan ( Siapa saja yang mendapatkan pelayanan barang dan jasa )
  2. Pasar ( yang menentukan biaya dari barang dan jasa yang akan dikomunikasikan )
  3. Golongan kepentingan ( anggota masyarakat dan pejabat pemerintah, baik yang mendukung maupun yang menolak kebijakan pemerintah )
  4. Badan badan lain yang menjadi konsumen daripada kebijaksanaan

2.) Input dari lingkungan

Input dapat dikatakan sebagai suatu transmisi yang dikirim dari lingkungan ke dalam proses konversi

Input dapat berupa :

Tuntutan :

  • Masyarakat menuntut barang-barang dan jasa-jasa dari negara untuk mereka konsumsikan. Contoh : pendidikan; kesehatan; rekreasi; keamanan; dll.
  • Masyarakat menuntut pengaturan perilaku pihak-pihak lain. Contoh : perilaku dari alat-alat negara.
  • Masyarakat dapat menuntut kebebasan kebebasan dalam rangka melakukan kegiatan-kegiata spiritual. Contoh : ibadah; merayakan hari besar agama.

Suatu tuntutan pada hakekatnya adalah analitis, tidak harus melukiskan sifat interaksi antara rakyat engan administrator; suatu tuntutan dapat berbentuk permintaan bukti akan suatu jasa.

Sumber-sumber kekayaan :

  • Sumber daya manusia
  • Kekayaan alam/sumber daya alam
  • Skill
  • Teknologi
  • Uang/keuangan
  • Metode-metode

Dukungan, oposisi/sifat masa bodoh :

Kewajiban membayar pajak

Kesediaan penerimaan pengaturan perilaku yang dibuat oleh pemerintah

Bagaimana sikap masyarakat terhadap perilaku administrator (mendukung atau menolak )

Saluran input kedalam proses konversi ini tidak saja berasal dari sektor swasta, namun juga berasal dari badan-badan pemerintah yang lain : lembaga eksekutif, lembaga legislatif, lembaga yudikatif. Input dapat berupa Undang-undang; instruksi-instruksi; peraturan pemerintah; penilaian kepala eksekutif; penilaian hakim; dsb

3.) Konversi

Yang berfungsi sebagai pelaku kegiatan-kegiatan administratif dalam proses ini adalah : unit-unit administratif yang dilaksanakan oleh para administrator.

Bekerja dipengaruhi oleh : input; keadaan dan susunan organisasi dari proses konversi yang bersangkutan, untuk 1. pengambilan keputusan, 2. pelaksanaan keputusan, 3. pengendalian, 4. tindakan.  Dengan melibatkan personil yang bekerja atas dasar :

  1. Struktur organisasi yang ada,
  2. Prosedur yang telah ditetapkan,
  3. Keahlian, pengalaman pribadi dan kecenderungan yang dimiliki,
  4. Cara-cara yang telah ditetapkan bagi para administrator dalam melakukan pengawasan terhadap bawahan.

4.) Outputs

Yang dihasilkan oleh administrasi negara dapat berupa :

  • Barang dan jasa seperti diinginkan masyarakat.
  • Pengaturan berbagai macam perilaku
  • Penyampaian informasi, dll

( Perwujudan dari tuntutan-tuntutan atau keinginan-keingainan; baik masyarakat, maupun cabang pemerintahan yang lain )

5.) Feed back

  • Mengambarkan pengaruh dari outputs terdahulu yang telah dinilai oleh konsumen (cocok/kurang cocok/tidak cocok)
  • Dengan harapan untuk dijadikan inputs baru dalam konversi berikutnya.
  • Untuk menghasilkan output baru yang lebih sesuai.

Mekanisme umpan balik ini merupakan bukti berkelanjutannya interaksi antara para administrator dengan sumber-sumber masukan dan konsumen/pemakai output mereka. Mekanisme ini juga menunjukkan bahwa proses selalu dinamis dan sirkuler.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

“Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau terorganisie, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau utuh” (Pamudji:1981).

Administrasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan kelompok ti bekerjasama mencapai tujuan bersama (Herbert A. Simon: 1959). Negara adalah suatu persekutuan dari keluarga dengan segala kepentingannya yang dipimpin oleh akal dari suatu kuasa yang berdaulat (Jean Bodin).

Administrasi negara adalah suatu studi mengenai bagaimana bermacam-macam badan pemerintah diorganisir, diperlengkapi dengan tenaga-tenaganya, dibiayai, digerakkan, dan dipimpin.

3.2 Saran

Pentingnya studi administrasi Negara dikaitkan dengan kenyataan bahwa kehidupan menjadi tak bermakna, kecuali dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat publik. Maka dari itu perlu kita memahami bagaimana untuk menjalankan administrasi Negara dengan baik

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/9772676/Pengantar-Ilmu-Administrasi-Negara.

http://new.goodreads.com/book/show/4575584.Sankri_Sistem_Administrasi_Negara_Kesatuan_Republik_Indonesia.

http://google.com/

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun  dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “system administrasi negara indonesia” tepat pada waktunya.

Dan pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat diselesaikan.

Penyusun menyadari dalam penulisan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan sebagaimana halnya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun dari pembaca sangat kami harapkan.

Unaaha,        Februari  2010

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………….. ii

BAB I     PENDAHULUAN ………………………………………………………………………. 1

1.1 Latar belakang …………………………………………………………………… 1

1.2  Rumusan Masalah …………………………………………………………… 2

1.3 Tujuan  ………………………………………………………………………………. 2

BAB II  PEMBAHASAN …………………………………………………………………………… 3

2.1 Pengertian Sistem dan Administrasi………………………………. .. 3

2.2 Pengertian Negara………………………………………………………….. .. 3

2.3 Sistem Administrasi Negara Indonesia…………………………… .. 4

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………… .. 10

3.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………….. 10

3.2 Saran………………………………………………………………………………….. 10

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………… 11

Add a comment Februari 7, 2010

makalah netralitas birokrasi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasca Gerakan Reformasi 1998, Indonesia mengalami proses transisi yang melibatkan pelembagaan politik sebagai upaya konsolidasi demokrasi dan desentralisasi pemerintahan. Proses transisi ini telah menghasilkan beberapa hal positif bagi bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya meningkatkan partisipasi politik rakyat, tapi juga menimbulkan kekhawatiran yang cukup besar akan dampak negatifnya. Lebih dari itu, gerakan netralitas birokrasi juga memunculkan pluralisme birokrasi (bureaucratic pluralism), dimana format kebijakan lebih merupakan hasil dari kompetisi aktor-aktor ketimbang monopoli negara. Salah satu indikasi penting yaitu peluang untuk mempengaruhi kebijakan publik lebih dimungkinkan dan juga relatif

meningkatnya tanggung jawab birokrasi terhadap masalah-masalah sosial dan tekanan sosial.

Masalah politisasi birokrasi tetap menjadi isu krusial dalam pemilihan umum khususnya pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Kekhawatiran publik terhadap keberpihakan birokrasi memang tidak berlebihan karena institusi ini sangat rentan dan mudah menjadi wilayah konflik kepentingan partai politik. Terbukti masalah netralitas ini kembali marak dipertanyakan ketika muncul isu terjadinya mobilisasi PNS di Bali dalam rangka kampanye PDI P menjelang pemilu legislatif bulan April 2004. Bahkan makin mencuat lagi ketika disinyalir adanya kampanye terselubung birokrat untuk mendukung salah satu calon presiden dalam pemilu putaran kedua, 20 September 2004 yang lalu.

Fenomena ini menunjukkan dengan jelas bahwa Undang-undang dan peraturan tentang birokrasi/PNS ternyata masih tidak cukup kuat untuk mencegah upaya penyelewengan fungsi birokrasi. Kecenderungan birokrat atau partai yang memerintah (apapun partainya) untuk menggunakan mesin birokrasi sebagai alat yang efektif untuk mendapatkan dukungan suara dalam pilkada sulit dicegah. Peluang reformasi birokrasi ke depan bisa jadi terhambat oleh konflik kepentingan yang tidak pernah absen untuk senantiasa menggunakan mesin birokrasi sebagai pengumpul suara dalam pilkada.

Di tengah era reformasi dewasa ini yang membuka peluang bagi berkembangnya pluralisasi dan polarisasi kepartaian, termasuk keterbukaan pola rekrutmen politik, mirip pengalaman era Demokrasi Parlementer tahun 1950-an di masa lalu, kiranya kita telah menyaksikan bersama suatu kontestasi seru persaingan partai dan politisi yang berlomba untuk dapat merebut kursi atau minimal berusaha mempengaruhi kinerja birokrasi pemerintahan. Khususnya di level daerah/lokal dari provinsi hingga kota/kabupaten, realitas ini bahkan seolah kian terlegitimasikan penguatannya lewat UU Pemerintahan Daerah, baik UU No. 22/1999 yang telah ditinggalkan maupun UU No. 32/2004 yang baru, beserta peraturan pelaksanaannya yang bersemangatkan otonomi daerah.

B. Perumusan Masalah

Atas dasar latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah Bagaimana netralitas birokrasi di Pemerintah dalam pemilu legislatif?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa memahami bagai mana netralitas birokras dalam pemilu legeslatif.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sejarah Birokrasi

Birokrasi memiliki asal kata dari Bureau, digunakan pada awal abad ke 18 di Eropa Barat bukan hanya untuk menunjuk pada meja tulis saja, akan tetapi lebih pada kantor, semisal tempat kerja dimana pegawai bekerja. Makna asli dari birokrasi berasal dari bahasa perancis berarti pelapis meja. Kata birokrasi sendiri kemudian digunakan segera setelah Revolusi Perancis tahun 1789, dan kemudian tersebar ke negara lain. Kata imbuhan -kratia berasal dari bahasa Yunani atau kratos yang berarti kekuasaan atau kepemimpinan. Birokrasi secara mendasar berarti kekuasaan perkantoran ataupun kepemimpinan dari strata kepegawaian (Thoha, 2004).

Di Cina, dinasti Song (960 AD) sebagai contoh membentuk birokrasi sentralistis dengan staf berasal dari rakyat jelata yang terdidik. Sistem kepemimpinan ini kemudian mendorong konsentrasi kekuasaan di dalam tangan kaisar dan birokrasi istana daripada yang diperoleh oleh dinasti sebelumnya. Teori Karl Marx tentang birokrasi berasal dari teori mengenai historical materialisme, asal muasal birokrasi dapat ditemukan dalam empat sumber: agama, pembentukan negara, perdagangan, dan teknologi. Kemudian, bentuk birokrasi paling awal terdiri dari tingkatan kasta rohaniawan/tokoh agama, pegawai pemerintah dan pekerja yang mengoperasikan aneka ritual, dan tentara yang ditugaskan untuk mentaati perintah. Di dalam transisi sejarah dari komunitas egaliter primitif ke dalam civil society terbagi kelas-kelas sosial dan wilayah, muncul sekitar 10.000 tahun yang lalu, dimana kewenangan terpusat, dan dipaksakan oleh pegawai pemerintah yang keberadaannya terpisah dari masyarakat.

Negara memformulasikan, memaksakan dan menegakkan peraturan, dan memungut pajak, memberikan kenaikan kepada sekelompok pegawai yang bertindak untuk menyelenggarakan fungsi tersebut. Kemudian, negara melakukan mediasi bila terjadi konflik di antara masyarakat dan menjaga konflik agar masih dalam batas kewajaran; negara juga mengatur pertahanan wilayah. Terutama, hak umum perorangan untuk membawa dan menggunakan senjata untuk mempertahankan diri sedikit demi sedikit dibatasi; memaksakan orang lain untuk berbuat sesuatu menjadi hak legal negara dan aparat pemerintah untuk melakukannya.

B. Netralitas Birokrasi

Konsep netralitas birokrasi sangat erat dengan perkembangan analisis sosial dan politik hampir dua abad yang lalu. Konsep itu terpusat pada analisis dan buah pikiran para pemikir klasik seperti Karl Mark, Max Weber, Jhon Stuart Mill, Gaestano Mosca dan Robert Michels (Fischer & Sirriani; 1984) Sekitar abad ke 20, konsep netralitas organisasi birokrasi menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial politik modern. Para penulis di tahun 30-an mulai lantang berbicara tentang managerial revolution dan konsep baru tentang birokrasi dunia (bureaucratization of the world). Berbarengan dengan itu mereka juga ingin tahu sampai di mana peranan birokrasi dalam perubahan-perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik pada zaman yang semakin maju ini. (Miftah;1993)

Kemudian bila dibandingkan dengan kondisi birokrasi di Indonesia khususnya pada era Orde Baru yang berjalan hamipr 32 tahun di mana jelas bahwa birokrasi sudah menampakkan keberpihakannya kepada satu kekuatan politik tertentu (Golkar) sebenarnya juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah politik Orde Baru itu sendiri. Ketika Orde Baru lahir, kehidupan kepartaian kita dalam kondisi dan situasi yang sangat memprihatinkan. Ini disebabkan oleh strategi pembangunan politik orde lama di mana PKI merupakan satu-satunya partai politik yang tetap eksis dengan fungsinya. Sedangkan parta-partai lain satu persatu hilang, baik secara alamiah atupun karena tidak sesuai dengan Bung Karno sebagai Presiden yang sekaligus sebagai Panglima Tertinggi dan menyatakan dirinya juga sebagai Panglima Besar Revolusi waktu itu yang mengeluarkan gagasan JAREK (jalannya revolusi kita) Dalam keadaan seperti itu masyarakat sangat merindukan terciptanya satu situasi yang memungkin-kan kepentingan mereka tersalurkan dan terwakili melalui partai politik. Situasi yang demikian dibaca oleh rejim baru, sehingga begitu orde lama tumbang, orde baru berusaha untuk memulihkan keadaan dengan mengetrapkan dua strategi dasar:

Pertama: menjadikan tentara/ABRI sebagai ujung tombak demokrasi dan pemegang kemdali pemerintahan ditopang oleh birokrasi yang kuat dan terlepas dari ikatan kepartaian konvensional/tradisional.

Kedua: menitikberatkan pembangunan ke arah rehabilitasi ekonomi. (Sunardian W dalam Anshori :1994) Dua strategi tersebut jelas akan memerlukan stabilitas dengan segala resikonya yang dalam banyak hal akan merugikan bagi parpol non-pemerintah. Dalam kerangka inilah ABRI kemudian mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (SEK-BER GOLKAR) pada tahun 1964 sebagai embrio bagi partai pemerintah (partai pelopor seperti konsep Presiden Soekarno). Dari sini kita melihat bahwa politik orde baru berusaha menciptakan iklim politik yang mendukung tumbuh suburnya kembali partai-partai politik, namun tetap berada di bawah kontrol birokrasi sehingga tidak akan menggoyahkan stabilitas nasional.

Faktor lain yang juga dapat disebut adalah tulisan Dr. Muhajir Darwin seperti dikutip Anshori (1994) yang menyatakan bahwa ; sejarah birokrasi di Indonesia di jaman kerajaan dahulu pernah meletakkan para birokrat (kaum ningrat dan abdi dalem) sebagai instrumen untuk melayani kepentingan raja. Kemudian datang penjajah atau para kolonial yang mengembangkan birokrasi model Weberian (secara rasional) untuk memenuhi kepentingan negara penjajah.Setelah kemerdekaan diperoleh, birokrasi menjelma sebagai organisasi modern dan besar di tengah masyarakat yang belum terbiasa berorganisasi secara modern.Disamping itu birokratisasi di Indonesia berkembang tanpa didahului oleh demokrasi seperti kebanyakan yang terjadi di negara-negara berkembang lainnya (Muhajir dalam Anshori :1994) Melihat perjalanan sejarah birokrasi di Indonesia yang seperti di atas tadi, maka sulit kiranya (bila biorkrasi tidak benar-benar netral) mewujudkan proses kontrol yang efektif terhadap birokrasi, menciptakan proses check and balance dalam mekanisme politik. Sebab dengan model; birokrasi = kekuatan politik tertentu/dominan dan sebaliknya, birokrasi akan bebas meniadakan fungsi kontrol terhadap hak-hak politik warga negara; sebagai contoh (era orde baru) lembaga LITSUS paling efektif untuk mengebiri hak-hak politik warga negara dengan menggunakan justifikasi politis yaitu “stabilitas politik” dan alasan ini adalah paling tepat dan mudah digunakan karena sejauh itulah yang dipercaya sebagai faktor yang mendukung keberhasilan pembangunan Indonesia selama kurun waktu 30 tahun terakhir ini. Namun memihaknya birokrasi pemerintah kepada kekuatan politik atau pada golongan yang dominan membuat birokrasi tidak steril (Miftah; 1993). Banyak virus yang terus menggrogotinya seperti pelayanan yang memihak, jauh dari obyektifitas, terlalu birokratis (bertele-tele) dan sebagainya, akibatnya merteka merasa lebih kuat sendiri, kebal dari pengawasan dan kritik.

Dengan melihat masalah politisasi birokrasi yang tetap berlangsung, maka jelas tampak di sini pentingnya untuk mengartikulasikan kembali tuntutan netralisasi birokrasi. Sebenarnya tuntutan ini sudah pernah menghangat ketika muncul perdebatan mengenai rangkap jabatan seorang pejabat pemerintahan sekaligus pengurus atau anggota partai. Namun demikian, tuntutan itu mendapatkan resistensi dari parpol dan para politisi atau kader partai yang meraih kekuasaan dalam kepemimpinan birokrasi pemerintahan. Terungkap setidaknya tiga alasan dari sikap para politisi dan parpol sehingga tidak mau melepaskan inter-relasinya.

Pertama, bahwa tidak ada aturan yang melarang seorang aktivis partai merangkap sebagai pejabat birokrasi, khususnya pada jabatan politik dari presiden/wakil presiden, menteri, gubernur/wakil gubernur, walikota/wakil walikota, dan bupati/wakil bupati. Kedua, bertahannya mereka sebagai pengurus partai meski telah menjadi pejabat birokrasi, bukan karena ambisi pribadi namun karena kehendak partai termasuk konstituen. Ketiga, posisi sebagai aktivis partai dan pejabat negara/pemerintahan merupakan dua hal yang berbeda, karena itu, katanya, dapat berusaha dipisahkan. Pertanyaan yang menarik dilontarkan, apakah mungkin bagi para politisi yang merangkap sebagai birokrat itu benar-benar dapat melepaskan diri dari ikatan aspirasi atau kepentingan partai yang mendukungnya? Sulit disangkal mereka pasti mengalami kendala. Terbuka peluang birokrasi untuk dimanfaatkan sebagai alat politik, jika tidak akibatnya malah melahirkan conflict of interest. Mengingat, garis batas aktivitas dan kepentingan antara domain birokrasi dan parpol bisa amat kabur, jika politisi bersangkutan menjabat pejabat birokrasi tanpa melepaskan atribut kepartaiannya.

Mencuatnya berbagai isu krusial seperti pergantian atau pergeseran pejabat dalam pos-pos pemerintahan oleh pejabat yang berkuasa yang tidak mengindahkan aturan, aksi dukung-mendukung aparat birokrasi terhadap kandidat dan aktivitas partai tertentu terutama dalam kasus Pilkada, adanya penetrasi kepentingan parpol dalam penentuan dan pengelolaan anggaran pembangunan dan banyak lagi lainnya yang sudah menjadi isu publik, semua itu menunjukkan isyarat kemungkinan terjadinya politisasi birokrasi. Maka, kini mendesak bagi pemerintah bersama lembaga legislatif mulai dari level pusat hingga ke daerah, untuk menegakkan profesionalitas dan netralitas kinerja birokrasi. Untuk itu, diperlukan code of conduct berupa regulasi tersendiri yang mengatur kinerja birokrasi atau dengan mengefektifkan regulasi yang sudah ada untuk mengontrol dan mengevaluasi masalah ini. Alternatif lain ialah dengan membentuk sebuah institusi kontrol khusus atau dengan mengefektifkan lembaga pengawas berwenang yang sudah ada mulai dari pusat hingga daerah, untuk mengawasi dan mengevaluasi sejauh mana arah rasionalitas dan profesionalitas birokrasi telah ditegakkan. Selain itu, keterlibatan komponen masyarakat sipil (civil society) juga penting dalam mengontrol performa birokrasi. Mengingat posisinya yang amat strategis sebagai  wadah yang lebih mampu bersikap kritis dan bergerak otonom di antara domain birokrasi (state/government) dan parpol (political society). Unsur masyarakat sipil harus menjaga jangan sampai birokrasi secara melanggar aturan hanya dimanfaatkan sebagai alat politik dan legitimasi belaka, untuk kepentingan partisan pihak yang memegang kepemimpinan birokrasi bersama parpol pendukungnya.

Birokrasi indonesia tercipta sebagai warisan dari sejarah masa penjajahan dan pasca penjajahan kolonial. Pola kekuasaan dalam budaya Jawa bercampur dengan budaya administrasi pemerintahan Barat menempatkan pencitraan birokrasi sebelum masa reformasi sebagai raja-raja kecil. Belum lagi, di masa pemerintahan Orde Baru, birokrasi mendapatkan tempat paling tinggi dalam tatanan masyarakat, bukan sebagai pelayan (pamong) rakyat, namun lebih sebagai dilayani rakyat. Penguatan jajaran birokrasi terutama setelah dilegitimasikannya PNS untuk masuk dalam arena politik, sebagai kendaraan partai Soeharto, Golkar memenangkan pemilihan umum sampai ke 7 kalinya

BAB III

PEMBAHASAN

  1. A. Netralitas Birokrasi Dalam Pemilu

Satu hal yang harus dijaga dan menjadi tantangan berat, jika ingin Pemilu berkualitas dan berjalan LUBER dan JURDIL; adalah mempertahankan atau bahkan meningkatkan netralitas birokrasi pemerintah. Birokrasi merupakan salah satu struktur politik yang penting dalam proses demokratisasi. Para birokrat menjadi agen sosialisasi politik yang sangat berperan dalam menyukseskan penyelenggaraan pemilu, pilpres dan pilkada. Kecenderungan yang terjadi pada era orde baru yang menjadikan konsep “monoloyalitas birokrasi” sesuai PP No. 12/1969, yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri waktu itu, telah menjadikan birokrasi sebagai alat yang ampuh untuk menjustifikasi kebijakan pemerintah dan melegitimasi kekuasaan. Jiwa dan semangat “monoloyalitas” telah tertanam di dalam diri setiap birokrat dan pada tingkat tertentu juga militer, terhadap keberadaan Golkar pada era itu, menyebabkan pola-pola yang terbentuk, semakin menampakkan warna dan gejala “birokratik”. Tentu, kita tidak ingin “penyakit lama” para birokrat termasuk di dalamnya PNS; yakni keberpihakan pada salah satu parpol akan kambuh kembali. Keluarnya PP No. 5 dan No. 12 tahun 1999, yang membatasi PNS dalam berkiprah di dunia politik; menjadi “obat” bagi kebuntuan proses demokratisasi yang telah berjalan puluhan tahun. Untuk menjawab tantangan itu maka diperlukan nitralitas birokrasi.

1. Netralitas PNS

Sejarah birokrasi di Indonesia menunjukkan, PNS selalu merupakan obyek politik dari kekuatan partai politik (parpol) dan aktor politik. Jumlahnya yang signifikan dan fungsinya yang strategis dalam menggerakkan anggaran keuangan negara selalu menjadi incaran tiap parpol untuk menguasai dan memanfaatkan PNS dalam aktivitas politik. Saat-saat menjelang pemilu, aktivitas politik partisan PNS menjadi kian intensif karena partisipasinya untuk mendukung kampanye secara terbuka maupun terselubung amat efektif.

Bagi parpol, keterlibatan PNS akan amat membantu dan mempermudah pelaksanaan kampanye yang sering terjadi melalui pemanfaatan fasilitas negara (mobil, gedung, dan kewenangan) secara diskriminatif, yang  menguntungkan salah satu parpol. Selain itu, di pelosok pedesaan yang mayoritas penduduknya tidak terdidik, figur dan pilihan PNS akan menjadi referensi bagi pilihan masyarakat.

Pertukaran ekonomi politik antara partai/aktor politik (caleg) dan PNS dalam pemilu tidak saja menguntungkan sisi politik, tetapi juga PNS sendiri. Keberpihakan PNS dalam pemilu kepada parpol/caleg dibutuhkan  untuk promosi dan karier jabatan. Dalam sistem birokrasi di Indonesia kini, di mana promosi dan karier jabatan tidak ditentukan oleh kompetensi dan kinerja, tetapi oleh afiliasi politik, netralitas PNS sulit ditegakkan. Hal inilah yang dapat menyumbangkan terjadinya blunder dalam pelaksanaan pemilu.

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian Negara mengatur secara tegas netralitas pegawai dalam pemerintahan. Pasal 3 UU No 43/1999 mengatur, (1) Pegawai negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan, dan pembangunan; (2) Dalam  kedudukan dan tugas sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), pegawai negeri harus netral dari pengaruh semua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ketentuan ini jelas melarang keberpihakan PNS dalam menjalankan fungsi pemerintahan dan pembangunan. Dalam praktik, tercatat ada tiga bentuk pelanggaran yang dilakukan PNS dan pejabat pemerintahan dalam pemilu.

Pertama, penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki, antara lain menerbitkan aturan yang mewajibkan kampanye kepada bawahan, pengumpulan dana bagi parpol tertentu, pemberian izin usaha disertai tuntutan dukungan kepada parpol/caleg tertentu, penggunaan bantuan pemerintah untuk kampanye, mengubah biaya perjalanan dinas, dan memaksa bawahan membiayai kampanye parpol/caleg dari anggaran negara.

Kedua, penggunaan fasilitas negara secara langsung, misalnya penggunaan kendaraan dinas, rumah dinas, serta kantor pemerintah dan kelengkapannya. Ketiga, pemberian dukungan lain, seperti bantuan sumbangan, kampanye terselubung, memasang atribut parpol/caleg di kantor, memakai atribut parpol/caleg, menghadiri kegiatan kampanye dengan menggunakan pakaian dinas dan kelengkapannya, serta pembiaran atas pelanggaran kampanye dengan menggunakan fasilitas negara dan perlakuan tidak adil/diskriminatif atas penggunaan fasilitas negara kepada parpol/caleg. Larangan penggunaan fasilitas pemerintah ini juga diatur dalam Pasal 84 Ayat 1 Huruf h Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Pasal 41 Ayat 1 Huruf h Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden.

  1. 2. Netralitas TNI/POLRI

Salah satu bentuk dukungan Tni terhadap netralitas pemilu adalah embali menegaskan jaminannya bahwa TNI akan bersikap netral pada Pemilu, Penegasan TNI untuk netral sudah dicanangkan sejak 2004 dan pada 2008 makin dimantapkan dengan diterbitkannya buku saku Netralitas TNI. Diantaranya yang menjadi bentuk netralitas TNI/ Polri diantaranya adalah:

  1. mengamankan penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada sesuai dengan tugas dan fungsi bantuan TNI kepada Polri.
  2. Netral dengan tidak memihak dan memberikan dukungan kepada salah satu kontestan Pemilu dan Pilkada.
  3. Satuan / Perorangan / fasilitas TNI tidak dilibatkan pada rangkaian kegiatan Pemilu dan Pilkada dalam bentuk
  4. apapun di luar tugas dan fungsi TNI. Prajurit TNI tidak menggunakan hak memilih baik dalam Pemilu maupaun dalam Pilkada.
  5. Khusus bagi prajurit TNI (Istri / Suami / anak prajurit TNI), hak memilih merupakan hak individu selaku warga Negara, institusi atau satuan dilarang memberi arahan didalam menentukan pelaksanaan dari hak pilih tersebut.

B. Upaya Menjaga Netralitas

Partai politik dewasa ini telah menanamkan pengaruhnya terhadap birokrasi lokal ; yang tentu saja dikhawatirkan akan mempengaruhi sikap netral para birokrat lokal, menjelang pemilu. Untuk itu upaya untuk menjaga netralitas harus senantiasa dilakukan sedini dan semaksimal mungkin. Memberikan pendidikan pemilih bagi para birokrat ; menjadi salah satu alternatifnya, dan pelaksanaannya tentu saja bisa dilakukan oleh KPUD atau KORPRI setempat. Dengan pendidikan ini, diharapkan mereka akan bebas memilih sesuai hati nuraninya tanpa paksaan atau tekanan dari atasan.

Sekaligus bisa menjadi “rem” bagi pejabat yang suka memobilisasi bawahannya secara tertutup menjelang pemilu. Alternatif yang lain adalah mangeluarkan aturan yang lebih tegas yang melarang para birokrat untuk terlibat dalam kegiatan kampanye politik, khususnya pada hari kerja. Hal ini untuk mencegah penggunaan fasilitas negara oleh parpol dalam kampaye, baik itu pemakaian kendaraan dinas, biaya dinas dsb.

BAB IV

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Netralitas birokrasi merupakan suatu wacana nasional dalam era repormasi ini, dimana diharapkan para birokrasi tidak lagi diboncenggi muatan atau pengaruh politik dalam pemilihan umum.

Dimana instansi PNS sudah jelas diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 5 dan 12 tahun 1999 tentang pembatasan PNS dalam partai politi. Netralitas birokrasi  akan membantu proses pelaksanaan PEMILU  yang bersih.

  1. B. Saran

Dibutuhkan peran dan komitmen dari lembaga, pemerintah dan masyarakat  untuk mendukung adanya netralitas birokrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anshori, A. Isa. 1994. “Netralitas Birokrasi”. Makalah disampaikan dalam Seminar Dikotomi Politik dan Administrasi. Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

Thoha, Miftah. 2004. “Birokrasi dan Politik di Indonesia”. Cetakan ke 3. Jakarta:

Raja Grafindo Perkasa

Internet

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Dan pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat diselesaikan.

Penyusun menyadari dalam penulisan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan sebagaimana halnya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun dari pembaca sangat kami harapkan.

Unaaha,       Januari 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Perumusan Masalah

C. Tujuan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Sejarah Birokrasi

B. Netralitas Birokrasi

BAB III PEMBAHASAN

  1. Netralitas Birokrasi Dalam Pemilu

1. Netralitas PNS

2. Netralitas TNI/POLRI

B. Upaya Menjaga Netralitas

BAB IV PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

NERTALITAS BIROKRASI DALAM PEMILIHAN UMUM

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

UNIVERSITAS LAKIDENDE

TAHUN 2010

Add a comment Februari 6, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 komentar Oktober 17, 2009

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts